Tokyo Part 4: Membumbui hasrat “Chicken Wing” di Hooters Shibuya. Membakar hati dengan Sake dan Yakitori di Shinjuku Omoide Yokocho

Hooters. Oh Yes, Hooters. Sebuah restaurant berlogo burung hantu bermata “belok” yang seakan mewakili mata setiap pria saat berada didalam restaurant ini.  Tak ada hal yang lebih menyenangkan buat kami selain menutup malam di Shibuya dengan ngunyah Chicken Wings, menyeruput beer sembari memandangi gadis-gadis Jepang ber-body guitar spanyol dengan dress code tank top putih dan hotpant orange super ketat. Mata saya yang tadinya makin sipit karena mulai mengantuk, berubah menjadi sebesar bola ping-pong. Persis seperti burung hantu di Logo Hooters.

Hampir semua waitress disini memiliki bentuk tubuh seperti gadis-gadis di pentas kecantikan Miss Universe. Tinggi semampai dengan bemper dan boobs yang sempurna layaknya model-model majalah dan iklan. Lalu saya menyadari dalam hati, sungguh saya telah berada di surga dunia. Dan seandainya saya berada dalam dunia anime One Piece, maka mungkin saya sudah menjadi seperti Sanji saat melihat Nami dan Robin pertama kali yang hendak menuju ke new world, “mimisan”. Tentu saja, saya dan teman-teman ga mimisan seperti di komik-komik, kami tetap berusaha cool seperti biasanya, melihat menu yang ada di meja, sesekali melihat ke hp, dan berusaha semaksimal mungkin tidak memandangi bagian tertentu dari tubuh mereka lebih dari 2 detik. Saya takut, jika lebih dari 2 detik, wajah tampan saya berubah menjadi muka pengen (mupeng), maka hancurlah image saya didepan gadis Tokyo nan aduhai ini.

IMG_2906.jpg
Mengabadikan selfie termanis dengan “Akiho”

Hooters merupakan resto yang berasal dari Amerika dengan menu andalan chicken wings, burger dan berbagai macam tipe beer ukuran kecil maupun besar. Dan seperti yang kita tahu, Hooters pun sudah membuka cabang mereka di Jakarta, yang tentu saja dengan dress code yang sedikit lebih “rapi”. Hooters menjual experience yang berbeda di tiap negara. Walaupun dengan konsep yang tak jauh berbeda, seperti saat kami makan tiba-tiba para waitress melakukan perform dengan bergoyang dan bernyanyi diiringi musik yang keras. Sembari mengajak para tamu untuk bertepuk tangan menyemarakkan suasana. Bahkan ada diantara mereka yang naik meja bar! untung nya saya ga ikut naik. Sungguh unik dan menghibur. Jika kamu ingin meneliti atau membuat makalah tentang karakteristik bentuk tubuh khas dari tiap wanita di negara berbeda, datanglah ke Hooters. Selain itu, menu makanan utama mereka yaitu Chicken Wings juga sangat enak. Kulit luarnya crispy en pedes huh hah, dagingnya lembut, en bumbu nya pas. Bumbu yang selain menggoyang lidah tetapi juga memanjakan mata pria dewasa. Apalagi ditambah dengan semangat para waitress yang memancarkan aura berenergi tinggi, enak diajak ngobrol, dan friendly menggoda ditambah dengan nilai plus-nya They can speak english very well. Membuat saya berimajinasi tingkat tinggi seakan dia layaknya seorang pacar. Hasrat kami untuk melihat gadis Jepang secara langsung tanpa tertutupi winter coat pun akhirnya tercapai. Kimochi!

Hooters Shibuya Google Maps LocationIMG_1872

Setelah keluar dari Hooters dengan wajah sumringah, saya sempat berpikir untuk langsung istirahat dan pulang ke Hostel. Namun karena Yan, salah satu teman kami cuma punya waktu 5 hari di Jepang, jadilah kami memadatkan jadwal dan menemaninya ke salah satu Piss Alley paling terkenal dan tertua di Shinjuku, yaitu “Omoide Yokocho” atau sering disebut juga Memory Lane Tokyo. Sebuah Gang sempit yang dipenuhi dengan kedai-kedai kecil dan bar tradisional dimana mereka menjual berbagai macam makanan sejenis bakar bakaran kayak barbeque, ataupun sampe yang anti mainstream buat turis kaya kita, yaitu makan gurita atau kodok idup-idup! Kalo kita si belum brani nyobain yang terlalu unique kaya gini, jijik dan kejam rasanya kalo melihat kodok dipatahin hidup-hidup didepan mata sendiri, terus langsung disantap. Tidak berkeprikodokan, Carnivore to the max!

IMG_1887
Memory Lane Shinjuku, pintu gerbang menuju surga bebakaran

Memory lane merupakan tempat favorit bagi warga lokal untuk berkumpul ataupun sekedar nongkrong. Terlihat dari pakaian mereka yang masi memakai jas hitam sehabis pulang kerja, berkumpul ramai ramai sambil menenggak bir dan menyantap daging. Sebuah pemandangan yang kadang sering kita lihat di film-film ala Jepang ataupun Korea. Pulang kerja, makan dan minum-minum lalu bobo kayanya sudah jadi budaya dan kebiasaan yang melekat bagi warga disini. Sedangkan kebiasaan sehari-hari saya di Indo, tutup toko, mandi, tergeletak lemah di ranjang (Engkoh-engkoh sejati).

Memory Lane Omoide Yokocho Google Maps Location

Dan tentu saja tujuan kita kesini tak lain dan tak bukan adalah untuk mencicipi Sake dan Yakitori! Yakitori adalah sate khas dari Jepang yang umumnya menggunakan daging ayam, babi, bakso ikan ataupun beef. Potongan daging, kulit, hati, empela dan sedikit sayuran dipotong kecil ukuran one bite, ditusuk dengan tusukan bambu, lalu dibakar dengan api arang  sambil dikipasin. Te sateee…. yak mirip sama sate padang dinegara kita. Bedanya ga pake bumbu kacang ataupun curry. Sedangkan Sake merupakan minuman alkohol khas Jepang yang merupakan fermentasi beras mirip mirip dengan Soju. Seperti biasa kami selalu men-share dan berbagi soal makanan, biar ga kekenyangan, sekaligus menghemat kantong.

Prinsip patungan dalam Traveling bersama kanca-kanca kentel merupakan seni kenikmatan tersendiri.

Bisa nyobain semua makanan lokal tanpa harus keluar duit lebih banyak dibandingin kalo sendiri merupakan salah satu kelebihan dari traveling bareng temen, beban di dompet dan kebahagiaan kupu-kupu diperut ditanggung bersama.

IMG_1888.jpg

Yup, sesuai dengan ekspektasi, rasanya ga mengecewakan. Daging hasil bakarannya pas enak en juicy abis, jadi ga kematengan yang biasanya ngilangin rasa original juicy dagingnya. Ditambah sambil nyeruput sake panas, slurrrrppp… campur jadi satu dimulut, enak sampe ke ubun-ubun. Sugoiiiiii! Abis makan ini, kita berasa jadi orang asli sini, Haik! Travel like a local.

IMG_2994.jpgMengkombinasikan cinta akan jalan-jalan dan nyicip makanan lokal itu seperti mesin waktu yang real. Foto makanan yang kamu santap mengingatkan kembali aroma dari daging yang dibakar, seperti teleport yang mengembalikan mu sekejap mata ke moment kamu ngunyah sampe klimaks. Membakar hati dari segala gundah, membumbui hasrat duniawi kita layaknya surga. Great food is worth the price! Tanpa kita sadari, nyobain makanan udah jadi bagian paling menyenangkan dalam traveling.

That’s why you shoud travel for food, just like us. And of course, a great food with a sexy girl, it makes the moment deliciously delightful!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s